Jakarta (KABARIN) - Kabar pengunduran diri Direktur Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Daryono, menjadi perhatian publik. Selama ini, ia dikenal sebagai salah satu figur utama yang menyampaikan informasi gempa dan potensi tsunami kepada masyarakat.
Dalam pernyataan yang dibagikan kepada media, Daryono mengumumkan pengunduran dirinya sekaligus pengajuan pensiun dini. Keputusan tersebut diajukan secara resmi kepada pimpinan BMKG pada Jumat (13/2) malam.
Ia menyebut saat ini sedang menjalani perawatan medis akibat sakit mata berupa distrofi kornea dan mengambil cuti dinas sebelum memasuki masa pensiun dini. Hingga 1 Mei 2026, ia masih berstatus sebagai pegawai BMKG.
Meski tak lagi menjabat sebagai Direktur Gempa Bumi dan Tsunami, Daryono menegaskan komitmennya untuk tetap memberikan edukasi publik di bidang kegempaan dan kebencanaan.
Di negara rawan bencana seperti Indonesia, edukasi gempa dan tsunami bukan hanya tugas institusi, tetapi juga tanggung jawab keilmuan dan moral para ahli.
Ia menyampaikan akan terus berkontribusi sebagai edukator publik dengan menjunjung tinggi objektivitas ilmiah dan kepentingan keselamatan masyarakat.
Sosok yang Dekat dengan Publik
Selama ini, Daryono dikenal aktif menjelaskan fenomena gempa bumi secara lugas dan ilmiah. Ia kerap membagikan analisis, baik melalui komunikasi langsung dengan wartawan maupun melalui media sosial pribadinya.
Keberadaannya menjadi salah satu wajah komunikasi kebencanaan yang mudah dipahami publik, terutama saat terjadi gempa besar di dalam maupun luar negeri.
Lahir di Semarang pada 21 Februari 1971, Daryono merupakan lulusan Akademi Meteorologi dan Geofisika (1993). Ia kemudian meraih gelar sarjana dari Universitas Indonesia, magister dari Universitas Udayana, serta doktor Ilmu Geografi dari Universitas Gadjah Mada.
Kariernya di BMKG dimulai sebagai staf teknis di Denpasar, kemudian aktif sebagai peneliti geofisika sejak 2005 dan menduduki berbagai jabatan strategis hingga dipercaya menjadi Direktur Gempa Bumi dan Tsunami pada 2022.
Apa Artinya bagi Masyarakat?
Bagi masyarakat, yang terpenting adalah keberlanjutan informasi gempa yang cepat, akurat, dan mudah dipahami. BMKG sebagai lembaga tetap memiliki sistem dan tim yang bekerja 24 jam dalam memantau aktivitas seismik.
Sementara itu, komitmen Daryono untuk tetap memberikan edukasi menjadi kabar baik di tengah kebutuhan literasi kebencanaan yang semakin penting.
Karena pada akhirnya, di negara rawan gempa seperti Indonesia, informasi yang jelas dan edukasi yang berkelanjutan adalah kunci keselamatan bersama.
Editor: Suryanto
Copyright © KABARIN 2026